Rabu, 22 Januari 2014

BPHTB Kel 1

BPHTB 
Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan 

A.Pengertian Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan / BPHTB 
BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) adalah pajak yang dikenakan atas perolehan perolehan hak atas tanah dan bangunan. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya atau dimilikinya hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang perseorangan pribadi atau badan. Objek pajak BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Subjek BPHTB adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan. DPP / Dasar pengenaan Pajak BPHTB adalah Nilai Perolehan Objek Bajak atau disingkat menjadi NPOP. NPOP dapat berbentuk harga transaksi dan nilai pasar. Jika nilai NPOP tidak diketahui atau lebih kecil dari NJOP PBB, maka NJOP PBB dapat dipakai sebagai dasar pengenaan pajak BPHTB. BPHTB yaitu merupakan pajak yang harus dibayar akibat perolehan hak atas tanah dan bangunan meliputi hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hak milik atas satuan rumah susun dan hak pengelolaan. 
B. Saat Pembayaran BPHTB
BPHTB harus dibayar apabila melakukan salah satu hal berikut di bawah ini :
  1. Akta pemindahan hak atas tanah dan atau bangunan ditandatangani oleh PPAT atau Notaris.
  2. Risalah lelang untuk pembelian telah ditandatangani oleh Kepala Kantor Lelang atau Pejabat Lelang yang berwenang.
  3. Dilakukannya pendaftaran hak oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten atau Kotamadya dalam hal pemberian hak baru atau pemindahan hak karena pelaksanaan putusan hakim dan hibah wasiat. Intinya adalah terjadi pemindahan hak karena jual beli, tukar-menukar, hibah, hibah wasiat, hadiah, warisan / waris dan pemberian hak baru karena adanya kelanjutan pelepasan hak dan di luar pelepasan hak. Sedangkan bentuk pengalihan yang tidak kena BPHTB adalah seperti pengalihan atau perubahan hak dan perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama, wakaf atau digunakan untuk kepentingan ibadah. 
C. Menentukan Besarnya Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan / BPHTB 
1. Tarif BPHTB adalah sebesar 5% dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak.
2. Nilai perolehan objek pajak atau NPOP tidak kena pajak ditetapkan sebesar Rp. 60.000.000 (enam puluh juta rupiah) yang sewaktu-waktu besarnya dapat dirubah oleh peraturan pemerintah. Sedangkan khusus untuk perolehan karena hak waris dalam satu dahar, sedarah atau keturunan garis lurus satu derajat ke atas atau ke bawah dengan pemberian hibah termasuk istri atau suami NJOPTKP atau Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak adalah sebesar Rp. 300.000.000.
3. Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak (NPOPKP) adalah nilai perolehan objek pajak (NPOP) dikurangi dengan nilai perolehan onjek pajak tidak kena pajak.
4. Besar pajak terutang BPHTB adalah didapat dengan cara mengalikan tarif pajak dengan nilai perolehan onjek pajak kena pajak (NPOPKP).

D. Tata Cara Pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan / BPHTB Wajib pajak membayar pajak BPHTB yang terutang tidak didasarkan pada surat ketetapan pajak atau SKP, melainkan dengan cara menghitung dan membayar sendiri pajak terutang dengan mengisi Surat Setoran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan atau Bangunan atau disingkat SSB. Pajak yang terutang dapat dibayar di Bank pemerintah, Bank DKI dan juga Kantor Pos di wilayah Kotamadya yang meliputi letak tanah dan atau bangunan dengan SSB. Tempat terutang pajak adalah di wilayah kabupaten, kota atau propinsi yang meliputi letak tanah dan bangunan. SSB dapat diperoleh di Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan / KP PBB / KPBB yang adal di wilayah DKI Jakarta, PPAT, Notaris, Kantor Lelang dan Kantor Pertanahan serta Kantor Bank Pemerintah, Bank DKI dan Kantor Pos. Pembayaran BPHTB dapat dilakukan tanpa menunggu diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak / SKP. SKP atau Surat Ketetapan Pajak adalah dokumen yang menjelaskan jumlah pajak yang kurang atau lebih bayar yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak setelah adanya pemeriksaan. SKP BPHTB disingkat menjadi SKB (Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan). SKB dapat dikeluarkan dalam jangka lima tahun semenjak saat terutang BPHTB. SKB dapat berupa SKBKB untuk yang kurang bayar, SKBLB untuk yang lebih bayar dan SKBN untuk yang nihil atau nol bayar.

E. Sanksi Tidak Membayar Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan / BPHTB
Apabila WP diketahui kurang bayar BPHTB maka Dirjen Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan BPHTB (SKBKB) beserta denda sebesar 2% perbulan untuk jangka waktu maksimal 24 bulan dihitung mulai saat terhutang pajak sampai diterbitkan SKBKB. Dirjen Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan BPHTB kurang Bayar (SKBKBT) jika ditemukan data baru atau data yang sebelumnya tidak terungkap yang mengakibatkan menambahnya jumlah pajak terutang setelah SKBKB terbit, maka dapat dikenakan denda sanksi administrasi sebesar 100% dari kekurangan pajak tersebut kecuali WP melaporkan sendiri sebelum adanya tindakan pemeriksaan.

Dasar Hukum
1. UU No. 20 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas UU No. 21 Tahun 1997 Tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
2. KMK Nomor : 630/KMK.04/1997 Tentang Badan atau Perwakilan Organisasi Internasional Yang Tidak Dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

SUBYEK PAJAK
Subyek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.

Objek Pajak
( Pasal 2 ayat (1) dan (2) UU No. 21 Tahun 1997 jo. UU No.20 Tahun 2000 ) Yang menjadi objek pajak adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a)

Pemindahan Hak karena :
1. Jual beli
2. Tukar Menukar
3. Hibah
4. Hibah Wasiat, adalah suatu penetapan wasiat yang khusus mengenai pemberian hak atas tanah dan atau bangunan kepada orang pribadi atau badan hukum tertentu, yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia.
5. Waris
6. Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya, adalah pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan dari orang pribadi atau badan kepada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya sebagai penyertaan modal pada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya tersebut.
7. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan, adalah pemindahan sebagian hak bersama atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan kepada sesama pemegang hak bersama.penunjukan pembeli dalam lelang;
8. Penunjukan pembeli dalam lelang, adalah penetapan pemenang lelang oleh Pejabat Lelang sebagaimana yang tercantum dalam Risalah Lelang.
9. Pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap, sebagai pelaksanaan dari putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, terjadi peralihan hak dari orang pribadi atau badan hukum sebagai salah satu pihak kepada pihak yang ditentukan dalam putusan hakim tersebut.
10. Penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya yang menggabung.
11. Peleburan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan-badan usaha yang bergabung tersebut.
12. Pemekaran usaha adalah pemisahan suatu badan usaha menjadi dua badan usaha atau lebih dengan cara mendirikan badan usaha baru dan mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva kepada badan usaha baru tersebut yang dilakukan tanpa melikuidasi badan usaha yang lama.
13. Hadiah adalah suatu perbuatan hukum berupa penyerahan hak atas tanah dan atau bangunan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan hukum kepada penerima hadiah.

b. Pemberian hak baru karena :
1. Kelanjutan pelepasan hak; Yang dimaksud dengan pemberian hak baru karena kelanjutan pelepasan hak adalah pemberian hak baru kepada orang pribadi atau badan hukum dari Negara atas tanah yang berasal dari pelepasan hak.
2. Diluar pelepasan hak. Yang dimaksud dengan pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah pemberian hak baru atas tanah kepada orang pribadi atau badan hukum dari Negara atau dari pemegang hak milik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hak Atas Tanah ( Pasal 2 ayat (3) UU No. 21 Tahun 1997 jo. UU No.20 Tahun 2000 ) Yang dimaksud hak atas tanah adalah :
1. Hak milik, adalah hak turun-temurun, terkuat, dan terpenuh yang dapat dipunyai orang pribadi atau badan-badan hukum tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah.
2. Hak guna usaha, adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara dalam jangka waktu sebagaimana yang ditentukan oleh perundang-undangan yang berlaku.
3. Hak guna bangunan, adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria.
4. Hak pakai, adalah hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain, yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
5. Hak milik atas satuan rumah, adalah hak milik atas satuan yang bersifat perseorangan dan terpisah. Hak milik atas satuan rumah susun meliputi juga hak atas bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama yang semuanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan satuan yang bersangkutan.
6. Hak pengelolaan, adalah hak menguasai dari Negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya, antara lain, berupa perencanaan peruntukan dan penggunaan tanah, penggunaan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya, penyerahan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga.

Pengecualian Obyek Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan
Obyek pajak yang tidak dikenakan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan adalah objek pajak yang diperoleh :
1. perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik;
2. negara untuk menyelenggarakan pemerintah dan/atau untuk pelaksanaan pembanugnan guna kepentingan umum;
3. badan atau perwakilan lebaga internasional yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain diluar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut;
4. orang pribadi atau badan karena koversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan adanya perubahan nama;
5. orang pribadi atau badan karena wakaf; dan 6. orang pribadi atau badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah; Tarif Pajak ( Pasal 5 UU No. 21 Tahun 1997 jo. UU No.20 Tahun 2000 ) Tarif pajak yang dikenakan atas objek BPHTB adalah sebesar 5 % (lima persen). Dasar Pengenaan ( Pasal 6 UU No. 21 Tahun 1997 jo. UU No.20 Tahun 2000 ) Yang menjadi Dasar Pengenaan BPHTB adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP), yaitu dalam hal : 1. jual beli adalah harga transaksi 2. tukar-menukar adalah nilai pasar 3. hibah adalah nilai pasar 4. hibah wasiat adalah nilai pasar 5. waris adalah nilai pasar
6. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar;
7. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar
8. peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar
9. pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar
10. pemberian hak baru atas tanah diluar pelepasan hak adalah nilai pasar
11. penggabungan usaha adalah nilai pasar
12. peleburan usaha adalah nilai pasar
13. .pemekaran usaha adalah nilai pasar
14. hadiah adalah nilai pasar;
15. penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam Risalah Lelang. Apabila Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf a sampai dengan n tidak diketahui atau lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak yang digunakan dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan, dasar pengenaan pajak yang dipakai adalah Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan. Nilai Pasar ( Pasal 6 UU No. 21 Tahun 1997 jo. UU No.20 Tahun 2000 ) Yang dimaksud dengan nilai pasar adalah harga rata-rata dari transaksi jual beli secara wajar yang terjadi di sekitar letak tanah dan atau bangunan.

 Nilai Perolehan Objek Pajak Yang Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) ( Pasal 7 UU No. 21 Tahun 1997 jo. UU No.20 Tahun 2000 jo. PP No.113 Tahun 2000 jo. KMK-516/KMK.04/2000
sebagaimana telah diubah terakhir dengan PMK-33/PMK.03/2008) Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan secara regional paling banyak Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah), kecuali dalam hal perolehan hak karena waris, atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri,
Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan secara regional paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). Yang dimaksud dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan secara regional adalah penetapan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak untuk masing-masing Kabupaten/Kota.

Tata Cara untuk menentukan besarnya NPOPTKP ( Pasal 7 UU No. 21 Tahun 1997 jo. UU No.20 Tahun 2000 jo. PP No.113 Tahun 2000 jo. KMK-516/KMK.04/2000 sebagaimana telah diubah terakhir dengan PMK-33/PMK.03/2008) Tata Cara untuk menentukan besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak adalah sebagai berikut :
1.Besarnya Nilai Perolehan Objek Tidak Kena Pajak ditetapkan untuk setiap Kabupaten/Kota. 2.Besarnya Nilai Perolehan Objek Tidak Kena Pajak untuk setiap Kabupaten/Kota dapat diusulkan oleh Pemerintah Daerah yang bersangkutan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak setempat, paling lambat 1 (satu) bulan sebelum tahun pajak dimulai.
3.Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak setempat atas nama Menteri Keuangan menetapkan besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak dengan memperhatikan usulan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam point 2.
4.Dalam hal Pemerintah Daerah tidak mengajukan usulan sebagaimana dimaksud dalam point 2, besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak setempat atas nama Menteri Keuangan dengan mempertimbangkan perkembangan perekonomian regional. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan, menetapkan besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak secara regional dengan ketentuan:
1.untuk perolehan hak karena waris, atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri, ditetapkan paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah);
2.untuk perolehan hak Rumah Sederhana Sehat (RSH) sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 03/PERMEN/M/2007 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman Dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPR Bersubsidi, dan Rumah Susun Sederhana sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 7/PERMEN/M/2007 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman Dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPR Sarusun Bersubsidi, ditetapkan sebesar Rp 49.000.000,00 (empat puluh sembilan juta rupiah);
3.untuk perolehan hak baru melalui program pemerintah yang diterima pelaku usaha kecil atau mikro dalam rangka Program Peningkatan Sertifikasi Tanah untuk Memperkuat Penjaminan Kredit bagi Usaha Mikro dan Kecil, ditetapkan sebesar Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah);
4.untuk perolehan hak selain perolehan hak sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c, ditetapkan paling banyak Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah);
5.dalam hal Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada huruf d lebih besar daripada Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada huruf b, maka Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak untuk perolehan hak sebagaimana dimaksud pada huruf b ditetapkan sama dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana ditetapkan pada huruf d;
6.dalam hal Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada huruf d lebih besar daripada Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada huruf c, maka Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak untuk perolehan hak sebagaimana dimaksud pada huruf c ditetapkan sama dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana ditetapkan pada huruf d."

Penghitungan Pajak ( Pasal 8 UU No. 21 Tahun 1997 jo. UU No.20 Tahun 2000 )
 Secara umum besarnya BPHTB yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak (NPOPKP) yang diperoleh dari Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dikurangi dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP), atau lebih lengkapnya sebagaimana diuraikan pada rumus dibawah ini: Nilai Perolehan Objek Pajak

Kena Pajak (NPOPKP)= Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) - Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak
Kena Pajak (NPOPTKP)

 Besarnya BPHTB terutang = 5 % X NPOPKP

Contoh perhitungan PBHTB karena warisan bisa dilihat sebagai berikut: Seorang ayah meninggal memiliki sebidang tanah kosong di Jakarta Selatan, kemudian akan dilakukan balik nama ke atas nama para ahli waris atau anak-anak dan istrinya. Karena proses balik nama tersebut para ahli waris diwajibkan membayar BPHTB. Data-data tanah objek warisan sebagai berikut: •Luas 1.000 m2 •NJOP = 1.000.000,- per meter •NPOP = 1.000 x Rp. 1.000.000,- = Rp. 1.000.000.000,- sama dengan NJOP total •NJOPTKP waris adalah Rp. 350.000.000,- (DKI Jakarta) Besarnya BPHTB adalah sebagai berikut: BPHTB = 5 % x (NPOP – NPOPTKP) BPHTB = 5 % x (Rp. 1.000.000.000 – Rp. 350.000.000) = Rp. 32.500.000,-

Senin, 28 Oktober 2013

PPT Kelompok "Etika Profesi Akuntansi"

PPT Kelompok Translate

Sabtu, 26 Oktober 2013

PPT Individu Atas Dasar Naskah Asli (B.Inggris) "Etika Profesi Akuntansi 128-130"

Minggu, 20 Oktober 2013

Tugas V-Class individu Pemeriksaan Akuntansi Lanjut


Annisa Nur Fadilla
20210922
4EB15
Tugas V-Class Individu Mata Kuliah Pemeriksaan Akuntansi Lanjut
           
Absen No.7
Soal : Apa Pengertian dari daftar pengendalian akses ?

Jawab:

   Daftar pengendalian akses bertujuan untuk dapat memberikan informasi dalam menetapkan hak akses ke semua pengguna valid atas sumber daya yang terkait dan membatasi  pengendalian akses sistem dan pengendalian akses file yang dibuat. Kedua pengendalian tersebut memiliki tujuan yang berbeda sebagai berikut : 
  • Pengendalian akses sistem merupakan pengendalian dalam bentuk perangkat lunak yang di desain untuk mencegah pengguna sistem oleh pengguna yang ilegal. Tujuan pengendalian sistem adalah untuk mengecek keabsahan pengguna dengan menggunakan sarana seperti ID, password, alamat internet protocol (IP) dan perangkat keras
  • Pengendalian Akses File merupakan lapisan terakhir dari pengendalian akses diterapkan pada level file. Untuk mencegah akses ilegal ke data dan file program. Pengendalian akses file yang fundamental adalah pembuatan petunjuk dan prosedur legal untuk mengakses dan mengubah file.





PPT TRANSLATE

Minggu, 13 Oktober 2013

Tugas Translate Etika Profesi Akuntan Semester 7


Translate Tugas Etika Profesi Akuntan
PART B ( halaman 128-130)
Annisa Nur Fadilla
20210922
4EB15

Perusahaan yang terlibat untuk memberikan jaminan pada total cadangan minyak terbukti 10 perusahaan independen. Masing-masing perusahaan telah melakukan survey geografis dan teknik untuk menentukan cadangan mereka. Ada kriteria yang telah ditetapkan untuk menentukan kapan cadangan dapat dipertimbangkan untuk membuktikan dalam praktek umum akuntan professional akan menentukan kriteria yang cocok untuk dapat menjalin hubungan yang berkaitan.

Jumlah cadangan terbukti untuk setiap perusahaan pada tanggal 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut :



Terbukti cadangan minyak dalam ribuan barel
Perusahaan 1
5.200
Perusahaan 2
725
Perusahaan 3        
3.260
Perusahaan 4
15.000
Perusahaan 5
6.700
Perusahaan 6
39.126
Perusahaan 7
345
Perusahaan 8
175
Perusahaan 9
9.635
Perusahaan 10
24.135
Total
104.301


Keterlibatan tersebut dapat dilakukan secara terstruktur dengan cara yang berbeda :


Berbasis pernyataan keterlibatan

  • A1 Setiap perusahaan mengukur cadangannya dan menyediakan sebuah pernyataan ke perusahaan dan untuk dimasukkan pengguna.
  • A2 Suatu entitas lain selain perusahaan tersebut mengukur cadangan dan menyediakan sebuah pernyataan ke perusahaan dan untuk dimaksudkan kepada pengguna.

Perusahaan melaporkan keterlibatan


  • D1 Langkah-langkah setiap perseroan yang perusahaannyamenyediakan cadangan dengan sebuah representasi yang mengukur cadangannya terhadap kriteria yang baik untuk mengukur dan terbukti cadangan representasi adalah ketidak tersediaan duntuk dimaksukkan ke pengguna yang dituju.

  • D2 Perusahaan langsung mengukur cadangan dari beberapa    perusahaan.


Aplikasi pendekatan.

  • A1 Setiap perusahaan mengukur cadangannya dan menyediakan sebuah pernyataan ke perusahaan dan untuk  dimaksudkan pengguna.


Ada beberapa pihak yang harus betanggung jawab pada keterlibatan ini (Perusahaan 1-10). Ketika menentukan apakah yang diperlukan untuk menerapkan kebijakan dan ketentuan kepada seluruh perusahaan, perusahaan dapat mempertimbangkan apakah kepentingan atau hubungan dengan perusahaan tertentu dapat menciptakan ancaman bagi kebijakan bukanlah tingkat keuntungan yang dapat diterima. Ini akan mempertimbangkan factor-faktor seperti :
·       Material Perusahaan terbukti dalam kaitannya dengan total cadangan yang akan dilaporkan, dan
· Tingkat kepentingan publik terkait dengan keterlibatannya (paragraf291,28).

Top of Form
Misalnya Perusahaan 8 menyumbang 0,17% dari total cadangan, karena itu hubungan usaha atau kepentingan dengan Perusahaan 8 akan menciptakan lebih sedikit ancaman dari hubungan serupa dengan Perusahaan 6, yang menyumbang sekitar 37,5% dari cadangan.
Setelah menentukan perusahaan-perusahaan mana persyaratan independensi berlaku, persyaratan jaminan tersebut dan perusahaan yang dituntut untuk menjadi independen dari pihak mereka yang bertanggung jawab dianggap sebagai klien jaminan.(paragraf291,28)
   A2 Sebuah entitas selain perusahaan mengukur cadangan memberikan penegasan kepada perusahaan dan pengguna yang dituju. 
Entitas selain perusahaan mengukur cadangan dan menyediakan sebuah pernyataan untuk perusahaan, dan pengguna yang dituju(paragraph 291,19). Entitas yang tidak bertanggung jawab untuk subjek dan sehingga evaluasi dilaukan dari setiap ancaman perusahaan memiliki alasan uintuk untuk percaya diciptakan oleh kepentingan dan hubungan dengan pihak yang bertanggung jawab. (paragraf 201,19).

Ada beberapa pihak yang bertanggung jawab sebagaimana dibahas dicontoh diatas A1, perusahaan dapat mempertimbangkan apakah bunga atau hubungan dengan perusahaan tertentu akan membuat sebuah ancaman bagi kemerdekaan yang tidak dapat diterima.
D1 Masing-masing perusahaan menyediakan perusahaan dengan representasi yang mengukur cadangan terhadap criteria yang telah ditetapkan untuk mengukur terbukti cadangan. 
Representasi tersebut tidak tersedia untuk pengguna yang dituju.. 

Ada beberapa pihak yang bertanggung jawab dalam keterlibatan ini (Perusahaan 1-10). 
Ketika menentukan apakah perlu untuk menerapkan ketentuan kebijakan kepada semua perusahaan, perusahaan dapat mempertimbangkan apakah kepentingan atau hubungan dengan 
perusahaan tertentu akan menciptakan ancaman bagi keuntungan yang tidak di
tingkat yang dapat diterima.Ini akan mempertimbangkan beberapa faktor seperti sebagai berikut:
       -  Material Perusahaan terbukti dalam kaitannya dengan  total cadangan yang akan dilaporkan, dan 
      -  Tingkat kepentingan publik terkait dengan keterlibatannya. (paragraf 291,28). 

Sebagai contoh, Perusahaan 8 menyumbang 0,17% dari cadangan, sehingga bisnis hubungan atau kepentingan dengan perusahaan 8 akan menciptakan lebih sedikit dari ancaman dibandingkan hubungan yang sama dengan perusahaan 6 itu menyumbang sekitar 37,5% dari cadangan. Setelah menentukan perusahaan-perusahaan mana yang menerapkan persyaratan kemerdekaan, tim jaminan dan perusahaan harus independen dari pihak yang bertanggung jawab yang akan dianggap menjadi jaminan klien (paragraph 291.28)

  D2 Perusahaan lagsung mengukur cadangan dari beberapa perusahaan aplikasi adalah sama seperti contoh D1.